DIPERCAYA SEBELUM SIAP : AWAL PERJALANAN SAYA SEBAGAI ELECTRICAL ENGINEERING MANAGE

From Junior Engineer to Engineering Manager: A Journey of Trust, Growth, and Leadership – Februari 2023 menjadi salah satu titik awal penting dalam perjalanan karier saya. Saat itu, saya resmi bergabung dengan PT Arfy Reka Cerdas sebagai seorang Junior Electrical Engineer.
Seperti kebanyakan fresh graduate lainnya, saya datang dengan semangat besar, rasa ingin belajar yang tinggi, namun juga dengan banyak ketidaktahuan. Dunia kerja terasa sangat berbeda dibandingkan dunia perkuliahan lebih cepat, lebih kompleks, dan tentu saja penuh dengan tanggung jawab nyata.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa hanya dalam waktu enam bulan, hidup saya akan berubah cukup drastis. Juli 2023 menjadi bulan yang tidak akan pernah saya lupakan. Tepat pada bulan tersebut, saya mendapatkan sebuah kepercayaan besar dari perusahaan: saya diangkat menjadi Acting Electrical Engineering Manager.
Peran tersebut bukanlah posisi permanen. Ini adalah masa percobaan selama enam bulan, di mana perusahaan akan menilai apakah saya layak untuk mengemban tanggung jawab sebagai seorang manager secara penuh.
Did I ever expect that this would happen in just six months? Absolutely not.
Was I ready for that role? Honestly, not at all.
Namun justru di situlah letak keistimewaannya. (Baca juga : Energize Saluran Udara Tegangan Tinggi (STUU) 150 kV THK – Karawang)
Momen tersebut terasa semakin emosional karena bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Saya masih ingat dengan sangat jelas ketika Pak Jaya Hastaria mengumumkan penunjukan tersebut kepada saya, lalu menutupnya dengan ucapan:
“Selamat ulang tahun ya, Nat.”
Saat itu saya benar-benar terdiam. Rasa terkejut, bangga, haru, dan syukur bercampur menjadi satu.
It was one of the most beautiful birthday gifts I’ve ever received.
Jujur, ini adalah langkah yang sangat berani, baik dari sisi perusahaan maupun dari sisi saya pribadi. PT Arfy Reka Cerdas memberikan kepercayaan besar kepada seseorang yang bahkan masih berada dalam fase transisi dari mahasiswa menjadi seorang profesional.
The Acting Phase: Learning While Leading
Di awal peran tersebut, saya memimpin tiga orang engineer. Tanpa pelatihan formal kepemimpinan, tanpa handbook yang jelas, saya mencoba menjalankan peran itu sebaik mungkin. Saya belajar sambil berjalan. Learning by doing.
Saya sempat merasa ragu:
“Apakah mereka akan benar-benar melihat saya sebagai leader?”
“Apakah saya cukup capable untuk memimpin mereka?”
Namun, saya sangat bersyukur karena tim saya menunjukkan sikap yang luar biasa. Mereka tidak pernah meremehkan saya. Instead, they supported me, respected the role, and worked together as a team.

Dukungan tersebut menjadi fondasi penting yang membantu saya berkembang selama menjalani masa Acting Manager.
Growing Beyond Comfort Zone.
Sejak saat itu, saya merasa seperti menjalani dua peran sekaligus:
- Sebagai engineer, saya harus terus belajar secara teknis
- Sebagai manager, saya harus memikirkan tim, komunikasi, koordinasi, serta berbagai keputusan yang berdampak pada pekerjaan bersama.
It wasn’t easy. Not even close.
Ada banyak momen ketika saya merasa overwhelmed. Ada hari-hari di mana saya merasa tidak cukup baik untuk menjalankan peran tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa pertumbuhan tidak pernah datang dari zona nyaman.
Saya belajar bahwa menjadi seorang leader bukan berarti harus mengetahui segalanya. Kepemimpinan lebih banyak tentang:
- Mau belajar lebih cepat dari yang lain
- Berani mengambil keputusan di tengah ketidakpastian
- Peduli terhadap tim yang dipimpin
Pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya terhadap kepemimpinan. Saya mulai menyadari bahwa seorang leader tidak harus sempurna, tetapi harus terus bertumbuh.
The Hard Part of Leadership.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai menghadapi sisi lain dari kepemimpinan sisi yang tidak selalu menyenangkan.
Saya pernah berada di posisi di mana anggota tim saya memutuskan untuk resign. Jujur, hal itu membuat saya sedih. Tidak hanya sedih, tetapi juga muncul perasaan bersalah.
“Apakah saya menjadi salah satu alasan mereka keluar?”
Pertanyaan tersebut terus muncul di kepala saya. Saya mengingat kembali berbagai kejadian yang pernah terjadi dan mulai mengevaluasi diri sebagai seorang pemimpin.
Perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk di satu sisi, saya harus tetap profesional dalam mengambil keputusan, namun di sisi lain, ada perasaan pribadi yang sulit untuk diabaikan.
Seiring waktu, ada satu hal yang perlahan menenangkan saya.
Mereka yang memutuskan untuk pergi tetap menyampaikan rasa terima kasih atas perjalanan yang pernah kami jalani bersama.
That meant a lot. Hal tersebut membantu saya memahami bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan.
“Sometimes people leave not because you failed, but because they are growing in their own direction”
Dan itu adalah bagian alami dari perjalanan setiap individu.
Leading with Heart.
Pengalaman tersebut membuat saya menjadi lebih reflektif.
Saya mulai menyadari bahwa menjadi seorang manager bukan hanya tentang target, performa, dan hasil kerja. Pada akhirnya, kepemimpinan juga berbicara tentang manusia.
Saya selalu memikirkan bagaimana tim saya bisa bertahan dan berkembang bersama saya dan perusahaan. Saya ingin mereka merasa nyaman. Saya ingin hadir ketika mereka menghadapi kesulitan.
Ketika tim saya berhasil, saya merasa sangat bangga seolah itu adalah pencapaian bersama. Ketika mereka melakukan kesalahan, saya tidak melihat itu sebagai kegagalan, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama.
Saya selalu berusaha memberi tahu mereka apa yang baik dan apa yang perlu diperbaiki, meskipun saya sendiri masih terus belajar. Because the truth is I’m growing with them.
Seeing From Different Perspectives.
Sampai saat ini pun, saya masih dalam proses belajar. Saya menyadari bahwa saya tidak bisa melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang sendiri. Saya harus belajar melihat dari berbagai sisi:
- Dari sudut pandang tim
- Dari sudut pandang perusahaan
- Dan dari sudut pandang diri saya sendiri
This is not easy, but this is necessary.
Karena di situlah keseimbangan seorang leader diuji.

Faster Than Expected.
Pada Januari 2024 sekitar empat bulan setelah menjadi Acting Manager perusahaan resmi mengangkat saya sebagai Electrical Engineering Manager.
That moment felt surreal.
Perusahaan tidak hanya memberikan kesempatan, tetapi juga menunjukkan kepercayaan yang begitu besar kepada saya, bahkan lebih cepat dari timeline yang sebelumnya direncanakan. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari PT Arfy Reka Cerdas. Perusahaan ini tidak hanya mengajarkan tentang pekerjaan, tetapi juga tentang kepercayaan, apresiasi dan kesempatan untuk berkembang.
A lesson I will always remember
Perjalanan ini mengajarkan saya satu hal yang sangat penting.
“You don’t have to be ready to start. Sometimes, you just need to be trusted
first”
Kepercayaan itu datang sebelum saya benar-benar siap. Tapi justru dari situlah saya belajar untuk menjadi siap. Saya juga belajar bahwa tidak semua keputusan terasa nyaman, tidak semua orang akan selalu bersama kita, dan tidak semua proses berjalan sempurna.
Namun selama kita terus belajar, terus bertanggung jawab, dan tetap peduli kepada orang-orang di sekitar kita, kita sedang berada di jalur yang benar.
Leadership is not about being perfect. It’s about being present, being responsible, and being willing to grow.
Jika hari ini kamu merasa belum siap untuk sebuah tanggung jawab besar,
ingatlah satu hal :
You don’t grow because you are ready. You grow because you are given the chance.
Dan ketika kesempatan itu datang, jangan menunggu sampai merasa siap. Jalani, pelajari, dan bertumbuhlah di dalam proses tersebut.
Perjalanan saya masih panjang. Masih banyak hal yang harus saya pelajari dan masih banyak tantangan yang harus saya hadapi. But one thing I know for sure :
I will keep learning, keep improving, and keep becoming someone worthy of the trust that was given to me.
Dari Junior Engineer ke Engineering Manager dalam 11 Bulan: Pelajaran tentang Kepemimpinan, Kepercayaan, dan Pertumbuhan Karier
Dipercaya Sebelum Siap : Awal Perjalanan Saya Sebagai Electrical Engineering Manager – Story insight by Natasyah Adelina